Aku bersahabat dengan seorang wanita.
Dia wanita cantik, tinggi, dan cukup ideal untuk dijadikan seorang pacar saat sekolah dulu. Ideal disini menurutku adalah karena banyak lelaki yang mendekatinya saat itu, entah apakah alasan itu cocok dijadikan parameter atau tidak. Sedangkan aku adalah seorang lelaki yang tidak lebih pendek darinya dan mempunyai tampang yang tidak jelek-jelek amat, hanya tubuhku saja yang kurang atletis.
Kami sering berjalan bersama, lebih tepatnya menonton acara musik bersama. Karena di kota kami banyak sekali event musik indie yang menghadirkan band-band favorit kami. Sehingga teman-teman sekolahku dulu pun banyak yang berubah menjadi ‘wartawan dadakan’ untuk sekedar bertanya tentang status kami. Dan mereka tidak pernah percaya dengan jawaban, “Diantara kami tidak ada apa-apa”.
Kami mendengarkan aliran musik yang hampir sama. Sehingga disaat salah satu dari kami punya stok lagu baru, kami akan menyempatkan waktu untuk mendengarkan lagu itu bersama. Meskipun begitu, dia berbeda denganku. Dia lebih mengerti tentang makna dari lagu-lagu yang ia dengarkan, sedangkan aku hanya sekedar menilai lagu ini apakah enak atau tidak.
Kami memiliki pendapat yang sama tentang hidup. Kami setuju bahwa virginitas dari seorang wanita harus dijunjung tinggi, dan hubungan seks sebelum nikah itu haram hukumnya.
Kami memiliki mimpi yang hampir sama tentang hidup. Kami bermimpi untuk dapat memiliki keluarga bahagia dengan tiga orang anak. Yang sulung laki-laki, yang tengah perempuan, dan yang bungsu laki-laki lagi. Sebagai seorang lelaki, aku berpendapat bahwa biarlah istriku kelak yang mengurus anak dan menerima hasil jerih payahku bekerja. Asalkan cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga dan memerhatikan orang tua serta keluarga kami yang lain. Selain itu, biarlah ia yang mengaturnya. Pebedaannya adalah dia tidak ingin sekedar menjadi ibu rumah tangga, dia juga ingin terlibat membantu suami mencari nafkah, dengan catatan anak tidak lupa diperhatikan. Tidak masalah bagiku.
Dan kami memiliki perasaan yang sama.
Aku dan dia sama-sama tidak saling mencintai. Perbedaannya adalah aku mencintai orang lain dan dia belum menemukan siapa pangerannya. Kami tidak pernah membahas hal itu, kami hanya sekedar sahabat yang menemukan kecocokan satu sama lain namun tidak saling mencintai. Kami nikmati dan kini sedang kami jalani.
Saat ini kami sedang menunggu hasil dari ujian akhir yang hasilnya menentukan apakah kami dapat melanjutkan ke jenjang perkuliahan atau tidak. kami tidak ingin pendidikan kami berhenti sampai disini dan kami mempunyai pandangan yang sama tentang itu. Namun kami pun tidak memiliki pandangan yang sama tentang jurusan kuliah. Sebagai lelaki, aku harus memilih jurusan yang dapat membantuku untuk menentukan kecerahan masa depanku. Sedangkan dia lebih memilih untuk kuliah di jurusan yang santai dan sangat high-class menurut saya. Untuk satu hal ini, aku tidak tahu alasan dia memilih jurusan kuliahnya tersebut, yang pasti di dalam pilihannya ia mempunyai tujuan yang sangat mulia untuk membahagiakan keluarganya.
Hasil ujian pun diumumkan.
Kami sama-sama diterima di kedua jurusan yang kami pilih. Dan akhirnya kami menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa baru. Pendaftaran, registrasi, kuliah yang terganggu ospek, ospek yang terganggu kuliah, nongkrong sepulang kuliah, teman-teman baru, logat baru, banyolan baru, dan wanita pujaan yang baru dari fakultas tetangga. Aku senang menjalani kehidupan baruku. Aku senang berteman dengan mahasiswa lain dari seluruh penjuru nusantara. Aku senang nongkrong di fakultas lain sepulang sekolah hanya untuk sekedar ngobrol dan memerhatikan apakah wanita yang kusukai kuliah atau tidak. Namun aku terlalu malu untuk sekedar berkenalan dengannya. Biarlah kupendam dulu.
Beberapa tahun masa perkuliahan berlalu. Dulu aku hanya seorang mahasiswa baru yang setiap melewati kerumunan mahasiswa yang lebih tua harus sedikit membungkukkan badan. Sekarang aku sudah cukup senior untuk dihormati adik-adikku. Namun aku tidak gila hormat. Aku malah sering sekali memberitahu mereka untuk menyapaku dengan nama asli saja. Tidak perlu ada embel-embel, “Akang”, “Aa”, atau hormat setiap kali berpapasan.
Aku sama sekali tidak lupa dengan sahabatku ini.
Selama masa-masa kuliah, kami pernah beberapa kali bertemu untuk mengikuti acara liburan ke luar kota dengan beberapa teman dan silaturahmi dengan guru-guru SMA-ku dulu. Kami juga saling berkirim pesan singkat atau sekali-kali (dia) menelepon lama-lama. Aku lebih suka berkirim pesan singkat, atau ngobrol face-to-face sekalian daripada menelpon lama. Menelpon lama menurutku sangat tidak efektif dan dapat merubah mood seseorang dengan cepat. Soalnya menurutku, kita tidak dapat menilai gesture lawan bicara kita karena tidak kelihatan apakah orang yang sedang kita telepon masih ingin melanjutkan pembicaraan atau tidak. Apakah hanya aku yang berpendapat seperti itu?
Singkat kata, suatu ketika dia menelponku karena ingin meminjam buku statistik yang kebetulan aku punya. Beberapa semester yang lalu memang aku mengambil mata kuliah statistik dan membeli bukunya. Hanya saja aku terlambat menyadari bahwa membeli atau tidak membeli buku pun nilai yang kudapat sama saja, jelek-jelek juga. Setelah mengetik beberapa pesan singkat, akhirnya kami sepakat untuk bertemu di suatu tempat.
Karena hari waktu itu sedang hujan, akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di rumah nenekku yang tidak jauh dari tempat pertemuan kami. Sambil menunggu dia, aku ditawari makan oleh nenekku dan tidak mungkin aku menolak. Aku makan malambersama dengan nenekku sambil membahas mengapa Naysilla Mirdad lebih sering bermain sinetron daripada Nana Mirdad. Di dalam hati, sebenarnya aku sangat tidak ingin menonton sinetron dan dalam hati pula aku bergumam “Pasti semua lelaki membenci sinetron”. Namun aku memaksakan diri untuk menonton sinetron saat itu untuk menghormati nenekku. Setelah beberapa menit, akhirnya aku terbuai dengan kecantikan beberapa pemerannya dan mulai mengikuti alur cerita. Lelaki macam apa aku ini? Ingin rasanya aku memukul diri sendiri.
Mrs. Bad-Timing
Baru saja aku selesai memasukkan suapan terakhir makanan ke dalam mulutku, handphone-ku bergetar dan kuterima pesan singkat yang berbunyi,
“gw udah mau nyampe”
Aku bingung dibuatnya, aku memikirkan perasaan nenekku. Masa baru saja selesai makan langsung pulang?. Tapi aku kemukakan saja alasanku. Akhirnya beberapa menit kemudian, aku telah keluar lagi dari rumah nenek (padahal jarang-jarang mengunjungi nenek, sekalinya bertamu hanya ikut makan saja. Maafkan aku, Nek!).
Di tempat pertemuan kami, aku melihat dia sedang duduk seorang diri dengan tampangnya yang terlihat sedikit bodoh. Aku menyapanya dan memberikan buku yang ia minta. Kemudian, kami langsung pulang karena saat itu hari sudah semakin malam.
Di jalan kami mengobrol, ia bercerita tentang kehidupan perkuliahannya yang semakin tidak menentu. Menurut pengakuannya, porsinya belajar untuk mengejar materi kuliah lebih sedikit dibandingkan dengan waktunya mengobrol dan hang out dengan teman sekampusnya. Dia menanggapi dengan sangat berlebihan. Namun aku dapat memakluminya dan masih dalam batas yang wajar menurutku, karena tidak jauh beda dengan apa yang kulakukan hingga saat ini. Meskipun di dalam hati aku selalu menyesal dan berjanji, “besok aku akan sadar dan belajar dengan serius!”. Lumayanlah, masih ada rasa penyesalan meskipun terbilang sangat minim.
Cerita dia berlanjut sampai pada poin yang baru kusadari ternyata sangat penting. Dia kini bukan lagi sahabatku yang dulu. Dia bercerita bahwa kini dia adalah seorang jiwa yang terperangkap dalam tubuh yang dikendalikan oleh dunia yang menghendakinya masuk ke dalam sebuah lubang. Tubuhnya tidak dapat dikendalikan, ia hanya bisa pasrah mengikuti dunia yang mengajaknya melihat fantasi. Tubuhnya senang menikmati, namun jiwanya tidak. Jiwanya ingin sekali memberontak dan sayangnya membutuhkan waktu lebih dari satu semester untuk memperbaikinya. Terlalu terlambat untuk menyadari bahwa sebenarnya ia mempunyai target yang sangat mulia jauh dari sebelum ia masuk dunia kampus.
Kini ia termenung. Termenung sambil menikmati alunan lagu yang sama-sama kami sukai namun dia tidak lagi memikirkan esensi dari lirik dan musiknya.
Kini ia sedang bermimpi. Bermimpi yang sangat indah namun tidak lagi mengetahui bagaimana dan kapan mimpinya akan terealisasi. Padahal sebelumnya, dia telah membangun pondasi yang sangat kuat untuk dapat membangun mimpinya setinggi gedung pencakar langit.
Kini dia bukan lagi sahabatku yang dulu kukenal,
Kini dia sendiri.






Cerita sedikit diperbuas
)
*semoga dia bisa seperti dulu lagii…pasti banyak orang yang kehilangan..
ada yang tahu sapa??
heee…
i know i know
ya semoga semoga ya bay..
ada sebuah potongan lirik yang bagus . . . .
“mistakes don’t mean a thing, if u don’t regret them”
(Silverchair – The Greatest View)
saia tau itu,,merasa kehilangan?knapa?apanya yg berubah?saya masih tidak mengerti karena perasaan saya dya baik2 saja
saya rasa dia telah berubah.
mudah2an saya salah.
mudah2an saya salah.
(apeu??hehee..)
…ceritanya mantab by…
heuehue..
susah emang menyatakan seseorang berubah atau tidak,,orang yang dirasakan berubah,merasa dirinya tidak berubah..orang yg melihatnya merasa dya berubah,(ini kebanyakan yg terjadi di dunia),,
memandang hanya dari satu sisi kyknya susah bey,,knapa cermin dibuat?itu untuk mengingatkan bahwa terkadang kenyataan itu terbalik dari apa yg terlihat..kanan jadi kiri dan kiri jadi kanan…
jadi melihat dan merasakan keberadaan seseorang kalau bisa dilihat dari seribu sisi yang ada..4 mata angin aja ga cukup untuk bisa dijadikan arah..apalagi arah dalam memandang kehidupan seseorang,,
gw jadi kyk nge post blog sendiri ini mah,hahaha,,,gw nulis ini untuk ditanggapi kembali,karena gw ingin kita berbagi untuk melihat bagaimana kehidupan sebenarnya,,
inilah kesalahan&kekurangan saia, saia hanya memandang dari satu sisi dimana saya haruslah mendapatkan sahabat saya seperti sedia kala, tidak perduli apapun faktor penyebab perubahan tersebut.
inilah kekhilafan saya dimana manusia seperti saya ini sedikit sulit untuk bisa menerima perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar saya
namun, seperti biasa. kehidupan yang kita jalani ini rentan sekali dengan perubahan. tanpa adanya perubahan, kita masih akan tetap menjadi seonggok makhluk bertulang belakang yang mencari makan dengan berburu. asalkan kita tetap berada di jalan yang diridhoi oleh-Nya, perubahan itu tetap akan baik adanya.
*mudah2an postingan ini ada gunanya, tapi nampak useless yha??hahaha..
*saya hanya meluapkan perasaan saya yang meledak-ledak kemarin. saya minta maaf apabila ada pihak yang merasa sedikit tersinggung atau merasa ada dalam cerita tidak berguna di atas tanpa konfirmasi sebelumnya (terutama Nenek saya, I’m so Sorry Grandma
).
*Aku kangen dia (yang lagi di Lembang, Lho??)